+
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

WARTAL-VIRAL  - Dear Ayah Bunda,





Cuma satu kata yang ada di pikiran saya, terkait judul di atas: Yakin?

Sebagai ibu rumahtangga, dulu saya salah satu kubu yang meyakini dan mendemonstrasikan, bahwa laki-laki (suami) pengorbanannya tidak ada seujung kuku seorang wanita (istri)

Bayangin aja.. hamil dan melahirkan, dengan diikuti perubahan bentuk tubuh dan baby blues sesudahnya. Mengasuh anak dengan segala kerepotan, membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarga bagi ibu pekerja. Belum tekanan sosial terkait kesehatan anak. Gemuk tidaknya anak, berprestasi tidaknya anak. Selalu saja dikaitkan dengan peran ibu.

Sedangkan laki-laki? Tanggung jawab utamanya mencari nafkah. Itu saja sudah. Pergi pagi pulang petang, tanpa tahu apakah di rumah berlangsung perang saudara ataukah banjir bandang.

Ini pula yang dulu membuat saya seriiing sekali merenguti suami saat dia pulang kerja, dan melepasnya kerja di pagi yang masih gelap dengan tangis menganak sungai. Iya,nangis.

Kok tega dia berangkat sepagi ini, dengan meninggalkan Balita-Balita yang saya sendiri sering tidak mampu bersabar atas mereka.

Kok enak bener ya hidupnya? Kalau cuma cari uang juga saya bisa

Coba deh gantian. Dia di posisiku semingguuu aja. Kira-kira kuat nggak tuh?

Enak aja berangkat cuma bermodal kata �Sabar ya bunda�� Ente kira-kira kalau di rumah kaya ane bisa sabar nggak bro?

Wah.. prasangka saya tentang suami, adalah serba enak dan njomplang dengan semua derita yang saya rasakan.

Derita

Apa iya sih saya menderita?

Lalu saya lihat lagi, rasakan lagi, perhatikan lagi, benarkah saya menderita dan dia jadi penikmat hidup?

Kelihatannya dia bebas bekerja dan meninggalkan jeritan anak yang sering bikin panik. Tapi saya tidak tahu saja, kalau di kantor jeritan para atasan itu seringkali bikin tensi naik.
Kelihatannya dia bebas bersosial, sedangkan hidup saya hanya seputar rumah, anak, rumah, anak. Itu saja tanpa kesudahan. Tapi saya tidak tahu saja, dia jenuh juga dengan rutinitas itu. Lingkungan sosial itu pun tidak selalu memberi rasa nyaman.
Kelihatannya sampai rumah bisa langsung tidur. Bukti bahwa dia tidak ada beban pikiran. Saya tidak tahu saja, bahwa bukan cuma saya yang butuh curhat. Dia pun ingin didengarkan. Tapi takut membuat saya semakin lelah lahir batin. Dan lagi, tidur itu satu-satunya obat lelah paling mujarab bukan?
Kelihatannya dia bebas stress. Ya iya lah! luar rumah itu kan penuh dinamika, beda dengan saya yang urusannya stag saja di situ. Hohoho.. saya pernah kerja juga, dan kalau boleh jujur, tingkat stress di lingkungan kerja tidak lebih ringan dari stress-nya ibu rumah tangga.
Kelihatannya dia cuma mikir satu hal saja: cari uang. Sedangkan saya, kompleks yang harus dipikir. Banyaak.. emang ngurus anak itu gampang? (tuh kan anak lagi yang dijadikan alasan derita) tapi saya tidak tahu saja, betapa njelimetnya dia menghitung potensi untuk bisa membeli rumah, demi agar anak istrinya tidak tinggal di kontrakan.
Kelihatannya dia bisa menikmati waktu di luaran sana.. sedang pekerjaan seorang ibu tidak ada habisnya. Saya lupa bahwa setidak enaknya saya, saya jadi boss di rumah saya sendiri. Nyapu ngepel masih terlindung genteng kok. Capek ya ayo selonjor.. Menyusui anak bisa sambil mencuri waktu tidur sebentaran. Sedangkan dia� apa iya jadi pekerja bebas menata jadwal kerjanya seperti saya?
Hingga suatu ketika, temannya berkata pada saya. �Mbak, Didik itu kalo di musholla kantor sering ketiduran lho..� oh saya baru sadar, dia pasti lelah sekali karena di rumah, semalam apa pun dia datang, pasti membuang waktunya dulu untuk ngobrol dengan istrinya dan membantu menyiapkan keperluan anaknya esok hari.
Hiks.. kok saya jadi merasa menyeramkan kaya penyihir-penyihir itu ya�
Jadi istri dan ibu rumahtangga itu lelah. Jangan ditanya dan jangan diragukan. Tapi bukan berarti jadi suami bebas dari ketidaknyamanan, dan bisa lebih menikmati hidup dari istrinya..
Memang ada tipikal suami pemalas, membiarkan istri bekerja keras sedangkan dia mencari nafkah pun tidak. Ada pria seperti ini.

Tapi ada juga yang sudah menjalani peran utama sebagai pencari nafkah, tapi di rumah tetap menutupi lelahnya dengan membantu pekerjaan istri dan membantu mengasuh anak.
Untuk suami-suami seperti ini, saya angkat topi.
Dan untuk para istri yang dianugerahi suami seperti ini, lalu pernah menggugat kadar kelelahan seperti saya, percayalah Bu, bisa jadi dia yang jauuuuh lebih lelah daripada kita.
Tapi dia tidak menunjukkan itu, karena cinta tidak perlu banyak cakap untuk bisa dirasa.
Salam hangat untuk semua Ibu,
Mudah-mudahan Bermanfaat...
Read more

Hanya bisa menanggung sampai 45 titik rasa sakit
. Namun ketika melahirkan, seorang ibu merasakan hingga 57 titik rasa sakit. Hal ini setara dengan 20 tulang retak dengan cara bersamaan pada satu saat.






Dapatkah anda bayangkan sekarang, rasa sakit dan cinta ibu? Nah Saat ini giliran kita untuk balas budi tak susah kok cuma butuh 1 detik untuk like, 1 detik untuk SHARE dan 20 detik untuk baca serta merenungkan 6 Pesan Ibu Pada Anak Lelakinya ini...

1. Ibu berkata, hargai istrimu seperti engkau menghormati ibumu, karena istrimu juga seorang ibu dari anak-anakmu.

2. Ibu berkata, bila geram bisa tak berikan duit, bisa tak bicara dengan istrimu, namun janganlah berkelahi dengannya (membentaknya, memukulnya).


3. Ibu berkata, diam sajalah bila istrimu tengah geram. Ingatlah saat khalifah Umar bin Khattab dimarahi istrinya. Umar cuma diam saja tanpa ada menyanggah. Anda dapat pikirkan seseorang Umar yang kuat serta perkasa, bahkan juga setan juga
takut bersua dengannya. Umar diam lantaran dia tahu benar begitu beratnya jadi seseorang ibu untuk anak-anaknya. Hari esok anak-anaknya sangatlah tergantung pada istrinya. Bila istrimu geram jadi diam serta dengarkan sajalah

4. Ibu berkata, jantung rumah yaitu seseorang istri. Bila hati istri mu tak bahagia jadi seisi rumah bakal terlihat seperti neraka (tak ada canda tawa, manja, perhatian). Jadi sayangi istrimu supaya dia bahagia serta engkau bakal terasa seperti di surga.
Ibu berkata, besar atau kecil gajimu, seseorang istri terus mau di perhatikan. Dengan demikian jadi istrimu bakal senantiasa menyambutmu pulang dengan kasih sayang.

5. Ibu berkata, 2 orang yg tinggal 1 atap (menikah) tak perlu gengsi, bertingkah, siapa menang siapa kalah. Lantaran keduanya bukanlah untuk berlaga tetapi rekan hidup selama-lamanya.
Ibu berkata, di luar beberapa wanita dambaan melebihi istrimu. Tetapi mereka mencintaimu atas basic apa yang anda mempunyai saat ini, bukanlah apa yang ada dirimu. Waktu anda temukan saat susah, jadi wanita itu bakal meninggalkanmu serta mempunyai pria dambaan lain dibelakangmu.

6. Ibu berkata, banyak istri yang baik. Namun di luar sana banyak pria yang mau memiliki istri yang baik serta mereka tak memperolehnya. Mereka bakal tawarkan perlindungan pada istrimu. Jadi janganlah dibiarkan istrimu meninggalkan rumah lantaran rasa sedih, Karena ia bakal susah sekali untuk kembali
Read more

Kisah ini saya dapat tanpa sengaja. Beberapa tahun yang lalu, tepatnya sekitar th. 1994-an
waktu saya pergi kuliah, saya bertemu dengan orang yang memberikan saran ini. Silakan baca dengan cermat, semoga bermanfaat bagi kita.

 




Pada hari itu saya terburu-buru berangkat ke tempat kuliah, maklum hari itu saya agak terlambat padahal hari itu mata kuliah favorite saya. Waktu hujan turun tiba-tiba, saya baru sadar bila lupa membawa mantel, akhirnya berteduhlah saya di sudut satu warung.

Di tempat itu saya berkenalan dengan seorang yang sangat baik, dia seorang menantu kyai pemilik pondok pesantren. Obrolan kami lebih seru waktu menginjak materi rejeki untuk manusia.
***
Pekerjaan dia yaitu pekerjaan serabutan. Dia tak memiliki pekerjaan tetap, tetapi dia bersyukur dapat mencukupi kebutuhan keluarganya dengan baik. Sandang, pangan, serta perhiasan untuk istrinya selalu tercukupi tanpa kekurangan. Itulah misteri rejeki mas, Kata orang itu pada saya.

Waktu saya bertanya apa rahasianya rezeki dia selalu berlimpah, jawaban dia terletak pada selalu bersyukur, serta terpenting jangan pernah sedikitpun menyakiti atau bikin kecewa istri. Itu saran yang selalu diberikan oleh mertua saya, serta saya membuktikan sendiri sampai sekarang, kata orang itu dengan muka serius.


Dengan selalu bersyukur, bahkan waktu terkena musibah sekalipun, kenikmatan yang bakal kita terima bakal ditambah oleh Allah. Itu janji Allah, bukan main-main mas, kata orang itu. Janji Allah tentang umatnya yang
 
ingin bersyukur memang kerap kita dengar dalam beragam kotbah atau ceramah agama.

Bila kita ingin menghitung berapa nikmat yang diberikan Allah pada kita, tentu tidak akan pernah habis. Itulah gambaran rasa sukur yang harus kita ungkapkan, namun terkadang banyak manusia yang lupa mensyukuri nikmat itu.


Berikutnya jangan sakiti istri kita. Inilah poin yang saya pegang selalu sampai sekarang. Pekerjaan seorang istri yaitu pekerjaan terberat dalam keluarga. Seorang istri mesti selalu melayani suami, melahirkan dengan taruhan nyawa.


Membesarkan anak dengan sulit payah, terkadang rela mengorbankan waktunya supaya anaknya dapat tumbuh sehat serta beragam pengorbanan yang tidak terhitung waktu mesti berupaya penuhi dan melayani keperluan suami serta anak-anaknya. Dengan lihat beratnya pekerjaan sang istri diatas, tegakah anda menyakiti istri anda?


Menurut orang yang saya kenal itu, banyak tidaknya rejeki yang dia terima terkadang tergantung pada perlakuannya pada sang istri. Saat dia keluar rumah mencari sesuap nasi dengan niat membahagiakan istrinya (waktu itu dia belum miliki anak), rejeki yang dia terima hari itu tentu banyak.

Sebaliknya bila waktu berangkat mencari nafkah dia sebelumnya menyakiti hati istrinya, terkadang dia tak mendapat hasil apapun yang dapat dibawa pulang.
Cerita di atas mungkin terkesan dibuat-buat, tetapi saya baru sadar serta merasakan sendiri waktu saya telah berkeluarga. Apa yang saya alami sama persis dengan yang dialami orang yang saya kenal beberapa tahun yang lalu itu.

Istri memang mempunyai peranan begitu besar dalam mendatangkan rejeki untuk kita. Mungkin doa istri mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk satu keluarga. Pesan saya, jangan pernah sedikitpun menyakiti hati istri kita bila ingin rezeki kita berlimpah. Semoga cerita ini berguna untuk kita semua.
Subhanallah... Ya Allah ampunilah dosa-dosa kami..
Demikianlah cerita tentang cara mendatangkan rejeki, silahkan bagikan semoga bermanfaat...
Read more

DALAM rumah tangga, status memang sering menjadi masalah. Jika suami yang memiliki harta lebih banyak daripada istri sih, itu sudah biasa. Dan memang suamilah yang memegang kendali dalam rumah tangga. Tapi, bagaimana jika istri yang memiliki harta lebih banyak daripada suami?

Sakinahmawadah.viva.net 

Istri yang egois, selalu mengedepankan nafsunya sendiri. Ia tidak mementingkan adanya suami, sebagai kepala rumah tangga. Padahal, sekaya apapun seorang istri, tetap suamilah yang memegang kendali dalam rumah tangga. Sebagai seorang istri, ia pun memiliki kewajiban-kewajiban tersendiri yang harus dipenuhi. Termasuk dalam hal menaati suami, dan meminta izin kemana pun ia pergi.
Allah SWT berfirman, �Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka,� (QS. An-Nisa: 34).
Jangan hanya karena Anda, sebagai istri mempunyai harta berlebih, karena memiliki warisan dari orang tua Anda misalnya, menjadikan diri Anda berperilaku seenaknya terhadap suami. Walau bagaimana pun juga, suami tetaplah seorang pemimpin yang harus ditaati dan dipatuhi perintahnya, selagi itu tidak bertentang dengan syariat.
Suami memiliki kewajiban memberikan Anda nafkah lahir dan batin. Kalau pun nafkah lahir telah Anda miliki lebih dari cukup, maka tak ada salahnya jika Anda tetap menerima pemberian dari suami. Dan menjadi hal yang sangat baik bagi hubungan Anda, jika Anda mau berbagi suka dan duka dengan suami. Anda bisa saja membantu suami, meringankan bebannya dalam memberikan nafkah.
Bagi Anda, sebagai seorang suami, jangan Anda berkecil hati dengan kelebihan yang dimiliki istri. Sebab, itu bisa saja menjadi anugerah bagi Anda. Jika Anda mampu memberikan kasih sayang dengan tulus, menjadi pemimpin yang baik, yang mampu mengarahkan istri dan anak-anak Anda menuju ridha-Nya, maka insya Allah, bermula dari saling mengasihi akan tumbuh menjadi keluarga yang diberkahi oleh Allah SWT. []
Referensi: 150 Problem Rumah Tangga yang Sering Terjadi/Karya: Nabil Mahmud/Penerbit: Aqwam
Read more

 Ketika seorang wanita telah sah untuk bersanding dengan seorang laki-laki, maka statusnya berubah menjadi seorang istri. Dan kewajiban sebagai seorang istri ialah mentaati suaminya. Termasuk untuk tinggal dan mengikuti segala aturannya, segali itu masih berada dalam tuntunan syariat Islam. Bukan hanya berlaku baik terhadap suami, sang istri pun harus berperilaku baik pula pada keluarga suami, termasuk kedua orang tuanya, yang menjadi mertua bagi istri.


 Terkadang ada istri yang tidak begitu menyukai mertuanya sendiri. Hal ini terjadi akibat beberapa faktor yang berbeda. Namun yang pasti, hal inilah yang menjadi penghambat hubungan silaturahmi untuk berjalan baik. Lalu, bagaimana hukumnya istri yang tidak mau mengunjungi rumah mertuanya? Dan apa hak mertua atas istri?

Seorang istri wajib menaati suami dalam perkara-perkara yang tidak mengandung maksiat kepada Allah. Syariat telah memberikan dorongan yang kuat kepada istri untuk menaati suami, serta memperingatkannya dari tidak mentaatinya dalam perkara-perkara yang ia bisa taat kepadanya.

Dalam Al-Musnad dan Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda, �Jika seorang wanita telah mengerjakan shalat lima waktu, berpuasa satu bulan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, �Masuklah kamu ke dalam surga dari pintu-pintu surga mana saja yang kamu kehendaki�.�

Dalam Al-Musnad, Shahih Ibnu Hibban dan Al-Mustadrak disebutkan bahwa Nabi bersabda, �Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk bersujud kepada orang lain (selain Allah), sungguh aku akan memerintahkan seorang istri untuk bersujud kepada suaminya.�

 Dalam kitab Ash-Shahih diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, �Maukah kalian aku kabarkan tentang dosa yang paling besar? Yaitu, menyekutukan Allah dan mendurhakai kedua orang tua.� Kemudian beliau duduk setelah sebelumnya bersandar dan bersabda, �Ketahuilah, juga perkataan sia-sia.� Beliau terus menerus mengulanginya hingga kami bergumam, �Sekiranya

Di antara sempurnanya ketaatan istri kepada suami ialah hendaknya ia berbuat baik kepada kedua orang tua suami, berbakti kepada keduanya, tidak berlaku buruk pada keduanya, serta bersabar terhadap apa yang muncuk dari keduanya. Semua itu dilakukan demi meraih ridha suami agar dengan itu ia memperoleh pahala dari Allah.

Jika ibu Anda marah pada istri Anda lantaran suau sebab yang datang dari istri Anda, maka seyogyanya istri Anda meminta maaf darinya sebelum ia meninggal, agar ia meninggal dalam keadaan ridha terhadap istri Anda. Namun, jika ibu Anda telah meninggal sedangkan istri Anda belum mengerjakan hal itu maka istri Anda wajib banyak mendoakannya agar mendapat ampunan.

Demikian pula seorang anak wajib banyak mendoakan kedua orangtuanya ketika keduanya masih hidup maupun sesudah meninggal. Allah berfirman, �Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, �Wahai Rabbku, kasihilah mereka sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil�,� (QS. Al-Isra�: 24).

Adapun mengenai hal itu dianggap sebagai kedurhakaan seorang anak kepada ibunya atau tidak, maka jawabannya adalah jika istri menyakiti ibunya sementara ia tidak mencegahnya, melarangnya dan menghukum perbuatan istri tersebut maka hal itu termasuk bentuk kedurhakaan. Sehingga, ia harus banyak beristighfar dan memperbanyak amal shaleh.

Sesungguhnya Allah Mahamulia dan Mahamenerima taubat lagi Maha Penyayang, Jika Dia mengetahui dari hamba-Nya kejujuran taubatnya maka Dia akan menerima taubatnya.
Allah berfirman, �Katakanlah, �Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang�,� (QS. Az-Zumar: 53).

Sumber: Cintaiislami.com

Read more